Gurutasawuf yang banyak diikuti oleh Bubuhan Kumai berasal dari Martapura, yang terkenal dengan sebutan Guru Sekumpul.4 Berkaitan dengan sumber terakhir ini, di Kumai ada beberapa guru tasawuf5 yang dijadikan rujukan oleh masyarakat. Para guru tasawuf ini mengajarkan agar selalu mendekatkan diri kepada Allah, melakukan kegiatan-kegiatan yang
Perjalanan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Sekumpul, selama menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura, Kalimantan Selatan, sungguh sangat mengharukan. Guru Sekumpul dulu hanya berasal dari keluarga yang miskin, bahkan saat masih kecil, dia hanya memiliki satu sarung yang dapat dipakai untuk sekolah. MARTAPURA, â Kisah perjalanan semasa kecil sekolah di Ponpes Darussalam ini pernah diceritakan langsung oleh Guru Sekumpul dalam pengajian rutin di Komplek Ar Raudhah Sekumpul. Kemudian kisah tersebut beredar di kalangan masyarakat Kota Martapura khususnya hingga sekarang. Guru Sekumpul dalam pengajian rutin mengisahkan, semasa kecil, sebelum memutuskan masuk sekolah ke Ponpes Darussalam, dia juga sempat diajari oleh ayah kandungnya, Syekh Abdul Ghani untuk bekerja. Syekh Muhammad Zaini Ingin Sekolah Namun tidak berlangsung lama, Tuan Guru Semman Mulia yang tidak lain pamannya sendiri, datang dari Makkah, kemudian menemui ibu kandung Syekh Muhammad Zaini yang bernama Hj Masliah. Lalu menanyakan pekerjaan yang dilakukan Syekh Abdul Ghani kecil. Kemudian Hj Masliah menjawab, âseparuh waktu belajar bekerja, dan separuh waktu lagi sekolah.â BACA JUGA ; 3 Amalan Ramadhan Guru Sekumpul VIDEO Kemudian Tuan Guru Semman Mulia memberikan perumpamaan, bahwa botol yang berisi garam itu pada bagian atas kecil, kemudian bagian tengah dan bawah besar. Jadi, garam tidak bisa dimasukkan ke dalam botol dengan jumlah yang banyak, melainkan sedikit demi sedikit. âKananak ini Syekh Muhammad Zaini kecil, kada sanggup dunia dan akherat dikumpulkan seharian semalaman, lucungâŚbahasa wayahini lucung,â ungkap Guru Sekumpul menirukan ucapan Tuan Guru Semman Mulia kala itu. Tuan Guru Semman Mulia memberikan pertimbangan agar menanyakan keinginan Syekh Muhammad Zaini kecil, agar memilih salah satu keinginan, apakah berdagang atau hanya sekolah. Kala itu, Tuan Guru Semman Mulia menyarankan Syekh Abdul Ghani atau istrinya langsung menanyakan kepada Syekh Muhammad Zaini kecil. Namun, baik Syekh Abdul Ghani maupun istrinya tidak ingin menanyakan secara langsung, karena khawatir Syekh Muhammad Zaini tidak dapat memenuhi keinginan kedua orang tuanya, sehingga durhaka. BACA JUGA ; Guru Sekumpul dan Guru Zuhdi; di Antara Kemuliaan Shalawat Atas Rasulullah Namun akhirnya, pertanyaan itu disampaikan nenek dari Syekh Muhammad Zaini kecil yang bernama Salbiah. âArwah nini nenek betakun, ikam cuâŚhandak sekolah kah atau begawi?â kenang Guru Sekumpul. Lalu Syekh Muhammad Zaini menjawab, hanya ingin sekolah. Kemudian Syekh Abdul Ghani menyampaikan, kalau memang ingin sekolah, keadaan kita seperti ini adanya, sarung untuk sekolah yang dimiliki hanya satu lembar. âDuduk di depan pintu, kalau sarung ditiup angin, tersibak sarung, karena tidak memakai celana. Sampai kawan bersuara yang di samping, siapa yang kawin dengan Ijai Guru Sekumpul sangat beruntung. Aku malu aja, cuman memang kada punya, orang lain memakai celana, aku kada kawa tidak bisa,â ungkapnya dengan nada guyon. Apabila masuk ke dalam kelas, kenang Guru Sekumpul, teman-temannya sering menutup hidung, karena pakaiannya bau. Tetapi karena memang bau, dirinya tidak marah. Baju yang dimiliki cuma satu lembar di badan, tidak disertai baju kaos di bagian dalam sebagai pelapis. Sehingga tatkala ketiak berkeringat, menebarkan aroma yang tidak sedap. Sekolah Hanya Minum Air Putih Bukan cuma itu, kisahnya, Syekh Muhammad Zaini kecil semasa sekolah tidak pernah duduk di warung, karena tidak mempunyai uang. âJadi di rumah minum air putih hangat lalu berangkat ke sekolah, kemudian jam WITA saat istirahat pulang lagi ke rumah minum air putih, setelah itu pukul 12 siang singgah ke masjid. Pulang ke rumah, lanjut dia, ayahnya Syekh Abdul Ghani datang ke rumah membawa satu bungkus nasi kuning. âSeperempat nasi untuk ayah, seperempat untuk uma ibu, seperempat untuk aku, seperempat untuk umanya Haji Ahmad saudara Syekh Muhammad Zaini, itu aja siang. Sisanya minum aja, puluhan tahun seperti itu,â katanya. Sengaja Tidak Dinaikkan Kelas Cerita lain juga disampaikan Syekh Muhammad Zaini, dia mengetahui perbincangan gurunya Tuan Guru Salman Jalil dan Tuan Guru Semman Mulia, yang menyatakan, âtidak ada riwayat orang kaya itu alim, yang biasa itu orang alim itu susah,â katanya. Dikatakan, usia 7 tahun dia sekolah agama di kampung selama 2 tahun, kemudian masuk sekolah di Ponpes Darussalam pada tingkatan Ibtidaiyah selama 6 tahun. Berikutnya naik ke Tsnawaiyah kelas 1, begitu mau naik ke kelas 2, ujar Tuan Guru Semman Mulia kepada Tuan Guru Salman Jalil, âjangan dinaikkan ke kelas dua, alasannya belum hapal alfiah.â BACA JUGA; Daftar Ulama Tanah Banjar, Guru Sekumpul adalah Wali Kutub Rupanya Tuan Guru Semman Mulia kasihan dengan Syekh Muhammad Zaini, sehingga mendoakan setiap malam saat Sholat Tahajjud. âNah sejak itulah, Allah Taala membukakan aku, Allah Taala Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, tidak ada lagi terlindung di langit maupun di bumi dan isi keduanya, seakan-akan aku melihat dan mengetahui, seakan-akan, berkat Guru Semman,â pungkas Guru Sekumpul.sir
Bahkan dari pengalaman dan pengetahuan agama yang diperolehnya, beliau menyatakan bahwa pernah mendengar perkataan Tuan Guru Syekh H Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul bahwa Kitab Barencong yang banyak beredar di masyarakat itu 90% palsu dan dapat menyesatkan.
Dilihat 45,537 Artikel Eksklusif Oleh H Derajat amalannya diijazahkan oleh Abah Guru Sekumpul yang diterima dari Habib Abdullah Al Aidrus putra Habib Sakran yang terkenal karena kewaliannya. Inilah amalannya Ya Quddus Ya Quddus Aâthinil fulus, fa man aadanii fahuwa manfus berkat Habib Abdullah Alaydrus dibaca 11 kali âWahai Yang Maha Suci, Wahai Yang Maha Suci berilah aku uang, siapapun yang memusuhiku matikanlah, berkah dari Habib Abdullah Alaydrusâ Inilah sebuah amalan yang menjadi wirid harian para Wali Allah yang sangat terkenal karena kesholehannya dan akhlaknya yang mulia. Semoga dengan kita menyebarkan ajaran Wali-wali Allah insya Allah kita akan menjadi umat yang dekat dengan Allah dan RasulNya. Aamiin. Mari peduli Umat Mari Peduli Sesama dengan perbuatan amal sholeh.
UlamaSufi yang lahir di Tunggul Irang, Martapura, 11 Februari 1942 dan wafat di rumahnya di Sekumpul, Martapura, pada 10 Agustus 2005, merupakan sabahat KH Abdurrahman Wahid, almaghfurlah. KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul, Martapura) mengingatkan, setiap Muslim pasti ingin menjadi murid Rasulullah SAW.
775Likes, 22 Comments. TikTok video from Pecinta Sholawat Nab (@sholawatlover): "amalan sebelum tidur abah guru sekumpul #abahgurusekumpul #abahsekumpul #pecintasholawatnabi #sholawatan
GuruSekumpul memiliki banyak nama panggilan seperti: Qusyairi (nama kecil), Guru Sekumpul (sebutan yang paling populer), Guru Ijai (Guru Izai), Guru Ijai Sekumpul, Tuan guru dan Abah guru.. Baca Juga: Kisah Karomah Abah Guru Sekumpul, Sopir Diberi Kopiah Hitam Seketika Rajin Ibadah Kisah karomah Guru Sekumpul kali ini tentang buah rambutan
Gelardan silsilah Terdapat beragam sebutan untuk Muhammad Zaini, di antaranya yang umum adalah: Qusyairi (nama kecil) Guru Sekumpul (sebutan yang paling populer) Guru Ijai (Guru Izai) Guru Ijai Sekumpul Tuan guru Abah guru Adapun gelar panjang yang diberikan oleh masyarakat luas terutama dari kalangan ulama adalah: Kyai Haji Muhammad Zaini Abdul
. skqa24z3l9.pages.dev/337skqa24z3l9.pages.dev/154skqa24z3l9.pages.dev/390skqa24z3l9.pages.dev/92skqa24z3l9.pages.dev/292skqa24z3l9.pages.dev/363skqa24z3l9.pages.dev/172skqa24z3l9.pages.dev/465
amalan tuan guru sekumpul